Selasa, 02 Maret 2010

FISIOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Mikrosirkulasi merupakan sistem peredaran darah kecil yang dimulai dari arteriol kemudian ke kapiler dan berakhir pada venula. Sistem mikrosirkulasi hanya dapat terlihat dengan menngunakan mikroskop. Ada beberapa faktor yang memepengaruhi mikrosirkulasi yaitu laju aliran darah, gradien tekanan serta resistensi. Darah diangkut keseluruh bagian tubuh melalui suatu sistem pembuluh yang membawa pasokan segar ke sel sekaligus mengeluarkan zat-zat sisa sel tersebut. Semua darah yang dipompa sisi kanan jantgung, mengalir ke paru untuk menyerap O2 dan mengeluarkan CO2. darah yang dipompa sisi kiri jantung dibagi-bagi dalam berbagai perbandingan ke organ-organ sistemik melalui melalui pembuluh-pembuluh yang tersusun paralel dan bercabag dari aorta. Susunan ini memastikan bahwa semua organ menerima darh dengn komposisi yang sama.

B. TUJUAN PERCOBAAN ATAU PRAKTIKUM
1. Mempelajari susunan mikrosirkulasi
2. Melihat aliran darah melalui susunan mikrosirkulasi
3. Melihat pengaruh beberapa faktor terhadap mikrosirkulasi










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mikrosirkulasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kapal-kapal kecil di pembuluh darah yang tertanam di dalam organ dan bertanggung jawab untuk distribusi darah dalam jaringan; sebagai lawan dari pembuluh lebih besar dalam macrocirculation yang darah transportasi dari dan ke organ-organ. Pembuluh di sisi arteri mikrosirkulasi disebut arteriola, yang dikelilingi oleh sel-sel otot polos, dan diameter 10-100 μm. Arteriol membawa membawa darah ke kapiler, yang tidak innervated, tidak memiliki otot polos, dan sekitar 5-8 μm in diameter. Darah mengalir keluar dari kapiler ke dalam venula, yang memiliki sedikit otot polos dan 10-200 μm. Darah mengalir dari venula ke dalam pembuluh darah. Selain itu pembuluh darah, mikrosirkulasi juga mencakup limfatik kapiler dan saluran pengumpul 1. Fungsi utama mikrosirkulasi termasuk peraturan, 2. aliran darah dan perfusi jaringan3. tekanan darah, 4. jaringan cairan (pembengkakan atau edema pengiriman oksigen dan nutrisi lain dan penghapusan CO2 dan produk-produk limbah metabolik lain, dan 5. suhu tubuh. Mikrosirkulasi juga memiliki peran penting dalam peradangan. (wikipedia, translate)
Kebanyakan pembuluh mikrosirkulasi dibatasi oleh sel-sel rata, yang endotelium dan banyak yang dikelilingi oleh sel-sel kontraktil pada otot polos atau pericytes.. The endotelium menyediakan permukaan yang halus untuk aliran darah dan mengatur pergerakan air dan bahan terlarut dalam plasma antara darah dan jaringan.Endotelium juga memproduksi molekul yang mencegah darah dari pembekuan kecuali ada kebocoran Sel-sel otot polos dapat kontrak dan mengurangi ukuran arteriola dan dengan demikian mengatur aliran darah dan tekanan darah. (wikipweia, translate)

Aliran darah melalui pembuluh bergantung pada gradien tekanan dan resistensi vaskuler.
Sirkulasi sitemik dan paru masing-masing terdiri dari sistem pembuluh tertutup. Arteri yang mengankut darah dari jantung ke jaringan bercabang-cabang menjadi suatu pembuluh darah yang semakin kecil, dengan berbagai cabang menyalurkan darah ke berbagai bagian tubuh. Sewaktu suatu arteri mencapai organ yang diperdarahinya, arteri tersebut bercabang-cabang menjadi banyak arteriole. Volume darah yang mengalir melalui suatu organ dapat disesuaikan dengan mengatur kaliber (garis tengah internal) arteriol organ. Di dalam organ arteriol bercabang-cabang lagi menjadi kapiler. Pembuluh terkecil temapt semua pertukaran antara darah dan sel-sel sekitarnya terjadi. Pertukaran dikapiler merupakan tujuan akhir dari sistem sirkulasi; semua aktivitas lain dari sistem ini diarahkan untuk memastikan distribusi adekuat darah segar ke kapiler untuk pertukaran semua sel. Kapiler-kapile kembali menyatu membentuk venula kecil, yang terus bergabung membentuk vena kecil yang keluar dari organ. Vena-vena kecil secara progresif bersatu untuk membentuk vena yang lebih besar yang akhirnya mengalir kan darah ke jantung. Arteriol, kapiler, dan venula secara kolektif disebut sebagai mikrosirkulasi.
Gradien tekanan-perbedaan antara tekanan permulaan dan akhir suatu pembuluh adalah gaya pendorong utama aliran tubuh; yaitu darah mengalir dari suatu daerah dengan tekanan tinggi ke daerah dengan tekanan rendah sesuai dengan penurunan gradien tekanan. Kontraksi jantung menimbulkan tekanan terhadap darah, tetapi karena adanya friksi (resistensi), tekanan berkurang sewaktu darah mengalir melalui suatu pembuluh.
Resistensi yaitu ukuran hambatan terhadap aliran darah melalui suatu pembuluh yang ditimbulkan oleh friksi (gesekan) antara cairan yang mengalir dan dinding pembuluh yang statoiner. Resistensi terhadap aliran darah bergantung pada tiga faktor yaitu; 1).viskositas (kekentalan) darah; 2).panjang pembuluh; dan 3).jari-jari pembuluh. Viskositas mengacu pada friksi yang timbula antara molekul suatu cairan sewaktu mereka bergesekan satu sama lain selama cairan mengalir. Semakin besarb vaskositas, semakin besar resistensi terhadap aliran. Viskositas dpengaruhi dua faktor yaitu konsentrasi protein plasma dan jumlah sel darah merah yang beredar. Darah menggesek lapisan dalam pembuluh sewaktu mengalir, semakin besar luas permukaan yang berkontrak dalam darah, semakin besar resistensi terhadap aliran. Luas permukaan ditentukan oleh panajang dan jari-jari pembuluh. Pada jari-jari konstan, semakin panjang pembuluh maka semakin besar luas permukaan dan semakin besar resistensi terhadap aliran. Cairan lebih mengalir deras melalui pembuluh berukuran besardaripada melalui pembuluh yang ukuran kecil, karena dipembuluh berukuran kecil darah dengan volume tertentu berkontrak dengan lebih banyak permukaan dari pada di pembuluh besar sehingga resistensi meningkat. (Sherwood, 2001)

ARTERI
Dinding semua arteri terbuat dari lapisan luar jaringan ikat, adventitia; lapisan tengah dari pada otot polos, media; dan lapisan dalam, intima terbuat dari endotelium dan didasari jaringan ikat. Dinding aorta dan arteri yang berdiameter besar relatif banyak mengandung jaringan elastis. Dinding ini regang selama sistol dan mengalami rekoil ketika pada waktu diastol. (Ganong, 2001)
Arteri disusun oleh otot polos dan mengandung serat kolagen dan serat elastic.Dimana Otot polos tersebut akan membesar dan mengecil sesuai dengan kebutuhan oksigen yang diperlukan sehingga dengan adanya otot polos itu dapat menambah setiap aliran darah kesel yang membutuhkan. (Ganong, 2003 translate)
Arteri mengkhususkan diri berfungsi sebagai jalur cepat untuk menyampaikan darah dari jantung ke jaringan (karena radiusnya yang besar , resistensi terhadap aliran aliran darah rendah) dan berfungsi sebagai reservoir tekanan untuk gaya pendorong bagi darah sewaktu jantungmengalami relaksasi. (Sherwood, 2001)
ARTERIOL
Arteriol merupakan arteri yang terkecil dimana arteriol lebih banyak mengandung serat elastic yang sifatnya recoil atau dapat kembali pada posisi semula jika pembuluh tersebut melar. (Ganong, 2003 translate)
Dinding arteriol mengandung lebih sedikit jaringan elastik tetapi lebih banyak otot polos. Otot dipersarafi oleh serat saraf adrenergik, yang merupakan vasokontriktordalam fungsinya dan beberapa keadaan oleh serat kolinergik yang mendilatasi pembuluh. Arteriol adalah tempat utama tahanan terhadap aliran darah dan sedikit perubahan pada garis tengahnya memebuat perubahan besar dalam tahan perifer total. Arteriol berperan dalam mengubah pergeseran tekanan sistolik ke diastolik yang fluktuatif menjdi tekanan nonfluktuatif di kapiler. Vasokontriksi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan penyempitan pembuluh. Vasodilatasi mengacu kepada pembesaran lingkaran dan jari-jari pembuluh akibat melemasnya lapisan otot polos. Tonus vaskuler yakni otot polos dalam keadaan normal memperlihatkan keadaan terkontriksi parsial yang membentuk resistensi arteriol basal. Berbagai faktor mempengaruhi tingkat aktifitas kontraktil oto polos arteriol. Faktor ini terdiri dari faktor kontrol lokal (intrinsik) yang penting untuk menyesuaikan aliran daraj dengan kebutuhan metabolik jaringan tempat pembuluh tersebut berada, kontrol ekstrinsik, yang penting untuk mengatur tekanan darah. (Ganong, 2001 dan Sherwood, 2001 )

Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi tingkat aktifitas kontraktil otot polos arteriol.
Faktor-faktor ini dikelompokkan dalam dua kategori :
• Kontrol Lokal (intrinsik)
yang penting untuk menyesuaikan aliran darah denga kebutuhan metabolik jaringan tempat pembuluh darah tersebut berada. Kontrol lokal adalah perubahan-perubahan didalam suatu jaringan yang mengubah jari-jari pembuluh, sehingga aliran darak ke jaringan tersebut berubah melalui efek terhadap otot polos arteriol jaringan. Kontrol local membantu terpeliharanya aliran darah yang konstan ke otak. Pengaruh-pengaruh lokal dapat bersifat kimiawi atau fisik.

- Pengaruh Kimiawi Lokal :
Perubahan Metabolik Lokal :
1. Penurunan
2. Peningkatan . Lebih banyak yang dihasilkan sebagai produk sampingan fosforilasasi oksidatif yang menyertai peningkatan aktivitas.
3. Peningkatan asam karbonat. Lebih banyak asam karbonat yang dihasilakan dari peningkatan akibat peningkatan aktifitas metabolik. Juga terjadi penimbunan asam laktat apabila yang digunakan utuk mengahasilkan ATP adalah jalur glikolitik.
4. Paningkatan . Potensial aksi yang terjadi secara berulang- berulang dan mengalahkan kemampuan pompa untuk mengembalikan gardien konsentrasi istirahat, menyebabkan peningkatan di cairan jaringan, misalnya diotot yang aktif berkontraksi atau bagian otak yang bekerja lebih aktif.
5. Peningkatan Osmolaritas. Osmolaritas (konsentrasi zat-zat terlarut yang aktif secara osmotis) meningkat ketika metabolism esel meningkat karena meningkatnya pembentukan partikel-partikel yang secara osmotis aktif.
6. Pengeluaran Adenosin. Terjadi pengeluaran adenosine sebagai respons terhadap peningkatan aktivitas metabolisme atau kekurangan , terutama di otot jantung
7. Pengeluaran Porstaglandin. Prostaglandin adalah zat perantara kimiawi lokal yang berasal dari rantai-rantai asam lemak didalam membran plasma.
8. NO ( Nitrat Oksida).

Pengeluaran Histamin. Histamin adalah mediator kimiawi lokal lain yang mempengaruhi otot polos arteriol, tetapi zat ini tidak dikeluarkan sebagai respons terhadap perubahn metabolic lokal dan tidak berasal dari sel endotel. Melalui efek relaksasi pada otot polos arteriol, histamine adalah peneyebab utama vasodilatasidi suatu daerah yang cedera. Terjadi peningkatan aliran darah local kedaerah yang bersangkutan yang menyebabkan kemerahan dan berperan menimbulkan pembengkakan pada respons peradangan.


- Pengaruh Fisik Lokal :
1. Panas atau dingin. Kompres panas adalah suatu cara terapi yang bermanfaat unutk meningkatkan aliran darah kesuatu daerah, karena panas menyebabkan vasodilatasi arteriol local. Sebaliknya, mengompres dennga es ke suatu daerah yang meradang akan menimbulkan vasokontriksi, yang mengurangi pembekakan dengan melawan vasodilatasi yang diinduksi oleh histamine.
2. Repon miogenik terhadap peregangan. Peningkatan tekanan arteri rata-rata akan mendorong lebih banyak darah ke arteriol dan meningkatkan peregangan arteriol, sedangkan oklusi arteri akan mengahmbat aliran darahke arteriol sehingga peregangan arteriol, berkurang.

• Kontrol Ekstrinsik :
Kontrol ekstrinsik terhadap jari-jari arteriol mencakup pengaruh-pengaruh saraf dan hormonaldenag efek system saraf simpatis adalah yang terpenting. Seta serat saraf simpatis mempersarafi otot polos arteriol di seluruh tubuh kecuali di otak. Aktifitas simpatis yang terus menerus ikut menetukan tonus vaskuler. Peningkatan aktivitas simpais menimbulkan vasokontriksi arteriol umum, sedangkan penurunan aktivitas simpatis menyebabkan vasodilatasi arteriol umum.
(sherwood, 2001)
KAPILER
Kapiler merupakan tempat pertukaran bahan-bahan antara darah dan jaringan, memiliki percabangan yang luas sehingga terjangkau oleh semua sel. Di kapiler tidak terdapat sistem transportasi yang dperantarai oleh pembawa, kecuali kapiler di otak yang memiliki sistem tersebutdan berperan dalam sawar darah otak. Kapiler merupakan pembuluh ideal untuk difusi sesuai dengan hukum fick yakni kapiler meminimalkan jarak difusi, sementara memaksimalkan luas permukaan da waktu yang tersedia untuk pertukaran. (Sherwood, 2001)
Arteriol dibagi menjadi pembuluh berdinding otot leboh kecil yang biasa disebut metarteriol, dan ini selanjutnya memberikan ke kapiler. Dalam beberapa lapisan vaskular metarteriol langsung dihubungkan dengan satu pembuluh ramai kapiler dan kapiler asli suatu jalinan anastomose pada sisi cabang pembuluh ramai ini. Lubang kapiler asli dikelilingi pada sisi hulu oleh sedikit otot polos sfingter prekapiler. Ketika melalui kapiler sel darah merah menjadi berbentuk bidal atau parasut, dengan aliran mendorong pusat sel darah merah lebih ke depen dibanding pinggirannya. Dalam otak kapiler menyerupai kapiler dalam otot, tetapi hubungan antara sel endotel lebih ketat, dan transport melaluinya sebagian besar terdapat pada molekul kecil dalam kebanyakan kelenjar endokrin , vili usus dan bagian dari ginjal sitoplasma sel endotel menipis membentuk celah yang desebut fenestrasi. Pertukaran anatra darah dan jaringan disekitarnya melalui dinding kapiler berlangsung melalui difusi oasif mengikuti penurunan gradien konsentrasi, mekanisme pertukaran zat terlarut dan bulk flow suatu proses yang melakukan fungsi sangat berbeda dalam melakukan distribusi volume CES antara kompartemen vaskuler dan cairan interstium. (Ganong, 2001)
Pertukaran natar darah dan jaringan disekitarnya melalui dinding kapiler berlangsung melalui: (Sherwood, 2001)
1. difusi pasif, di dinding kapiler tidak terdapat sistem transportasi yang diperantarai oleh membawa, zat terlarut berpindah terutama melalui proses difusi menuruni gradien konsentrasi mereka. Proses homeostatik ini terutama dilakukan oleh organ yang memperbarui yang secara terus menerus menambahkan O2 dan mengeluarkan CO2 dan zat sisa sewaktu darah melewati organ tersebut. Difusi setiap zat terlarut terus berlangsung secara independen sampai tidak ada lagi terdapat perbedaan konsentrasi antara darah dan sel sekitarnya.
2. bulk flow, suatu volume cairan bebas protein sebenarnya tersaring keluar kapiler, bercampur dengan cairan intersitiumdi seketirnya dan kemudian direabsorbsi. Proses ini disebut bulk flof karena berbagai konstituen cairan berpindah bersama-sama sebagai satu kesatuan.bulk flow terjadi karena perbedaan tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik koloid antara plasma dan cairan interstisium.
Empat gaya yangmempengaruhi perpindahan cairan menembus dinding kapiler yaitu:
1. tekanan darah kapiler
2. tekanan osmotik koloid plasma
3. tekanan hidrostatik cairan intersitium
4. tekanan osmotik koloid cairan intersitium

VENA DAN VENULA
Sistem vena melengkapi sirkuit sirkulasi. Darah meninggalakan jaringan kapiler memasuki sistem vena unutk dibawa kembali kejantung. Vena memiliki jari-jari besar sehingga resistensi mereka terhadap aliran rendah. Luas potongan melintang total pada sistem vena secara bertahap berkurang, karena vena-vena yang lebih kecil berkonvergensi menajdi vena yang lebih besar tetapi lebih sedikit, kecepatan aliran darah meningkat pada saat darah mendaki jantung. Vena berfungsi sebagai saluran beresistensi rendah untuk mengembalikan darah ke jantung dan vena juga berfungsi sebagai reservoir darah.
Aliran balik vena mengacu kepada volume darah yang masuk tiap-tiap atrium permenit dari vena. Sebagian besar gaya pendorong yang ditimbulakn oleh jantung pad adarah telah hilang pada saat darah mencapai sistem vena karena adanya friksi di sepanjang perjalanan darah, terutana ketika darah melaui arteriol yang memiliki resistensi tinggi. Pada saat darah memasuki sitem vena , tekanan rata-ratanya hanya mencapai sekitar 17 mmHg, namun karena tekan atrium yang mendekati 0 mmHg, masih terdapat gaya yang kecil tatapi adekuat untuk mendorong darah mengalir melintasi sitem vena yang memiliki jari-jari besar dan resistensi rendah. Jika tekanan atrium meningkat secara patologis akan menimbulkan gagal jantung kongestif. (Ganong, 2001)

Pengaruh Mikrosirkulasi yang Kurang Baik
Di satu sisi, pembuluh microsirkulasi mudah terkena pengaruh buruk dari kolesterol tinggi, kekentalan darah tinggi, penggabungan sel-sel darah merah, yang mana nantinya akan menimbulkan thrombosis (pembekuan sel-sel darah), dan pelan-pelan akan menyumbat pembuluh darah. Di sisi lain, dikarenakan pembuluh mikrosirkulasi ini mengalir ke seluruh tubuh, jika ada gangguan pada bagian tertentu, maka akan muncul gejala penyakit di bagian tersebut.
Misalnya :
1. Jika tersumbat di bagian kepala, akan muncul gejala sakit kepala, imsomnia, vertigo, bibir terasa kaku, lumpuh sebelah, kesulitan berbicara
2. Jika tersumbat di bagian mata, akan menimbulkan gejala daya penglihatan berkurang atau bahkan buta.
3. Jika tersumbat dibagian telinga, akan menimbulkan gejala telinga berdengung, tuli.
4. Jika tersumbat di bagian jantung, membuat dada terasakurang nyaman atau nyeri.
5. Jika tersumbat di bagian tangan atau kaki, akan muncul gejala kesemutan, nyeri, mengeras dan lainnya ( misalnya seperti sakit atau nyeri di bagian persendian dan otot.
Dikarenakan plak-plak dalam pembuluh darah ini terbentuk dalam hitungan bulanatau tahun, sementara pemeriksaan biasa seperti CT scan, resonansi magnet, sinar X, gelombang ultrasonic B dan lainnya belum bisa digunakan untuk memeriksa pembuluh micrisirkulasi. Oleh sebab itu, pemeriksaan micrisirkulasi ini adalah sangatlah berguna dibandingkan dengan pemeriksaan makroskopik lainnya.











BAB III
METODOLOGI

A. METODOLOGI ALAT DAN BAHAN
1. Epinefrin
2. Histamin 1/500
3. Air hangat dan dingin
4. mikroskp
5. katak

B. CARA KERJA
Setelah katak diserebrasi, pergunakan lidah atau mesentrium yang transparan untuk meliaht susunan kapiler. Letakkan katak di atas papan lilin sehingga bagian yang transparan terletak di atas sebuah lubang pada papan lilin. Setelah cahaya pada mikroskop di atur dengan baik, letakkan preparat di bawah lensa. Bila transparani preparat tersebut cukup baik maka kita dapat melihat susunan pembuluh darah yang jelas












BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PERCOBAAN
Berdasarkan percobaan yang dilakukan setelah katak di serebrasi, lidah katak dijulurkan, kemudian pada lidahnya diteteskan epinefrin kemudian dilihat dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran maksimal, sehingga kita dapat melihat pembuluh darah katak pada bagian lidahnya. Berdasarkan percobaan ini kita dapat melihat aliran sel darah merah yang melakukan perpindahan (mikrosirkulasi) dari satu pembuluh darah ke pembuluh darah yang lain atau cabang-cabang pembuluh darah (arteriol). Namun, hal ini tidak berlangsung lama sebab semakin lama gambar yang dilihat melalui mikroskop semakin lama semakin menghilang.

B. PEMBAHASAN
Mikrosirkulasi merupakan peredaran darah kecil yang paling utama terdiri dari arteri, arteriol, kapiler, vena dan venula yang hanya dapat dilihat secara mikroskopis karena ukuran yang kecil.
Arteri disusun oleh otot polos dan mengandung serat kolagen dan serat elastic.Dimana Otot polos tersebut akan membesar dan mengecil sesuai dengan kebutuhan oksigen yang diperlukan sehingga dengan adanya otot polos itu dapat menambah setiap aliran darah kesel yang membutuhkan.
Arteriol merupakan arteri yang terkecil dimana arteriol lebih banyak mengandung serat elastic yang sifatnya recoil atau dapat kembali pada posisi semula jika pembuluh tersebut melar.
Kapiler merupakan tempat pertukaran bahan-bahan antara darah dan jaringan, memiliki percabangan yang luas sehingga terjangkau oleh semua sel. Di kapiler tidak terdapat sistem transportasi yang dperantarai oleh pembawa, kecuali kapiler di otak yang memiliki sistem tersebutdan berperan dalam sawar darah otak. Kapiler merupakan pembuluh ideal untuk difusi sesuai dengan hukum fick yakni kapiler meminimalkan jarak difusi, sementara memaksimalkan luas permukaan da waktu yang tersedia untuk pertukaran
Sistem vena melengkapi sirkuit sirkulasi. Darah meninggalakan jaringan kapiler memasuki sistem vena unutk dibawa kembali kejantung. Vena berfungsi sebagai saluran beresistensi rendah untuk mengembalikan darah ke jantung dan vena juga berfungsi sebagai reservoir darah.
Aliran balik vena mengacu kepada volume darah yang masuk tiap-tiap atrium permenit dari vena. Sebagian besar gaya pendorong yang ditimbulakn oleh jantung pad adarah telah hilang pada saat darah mencapai sistem vena karena adanya friksi di sepanjang perjalanan darah, terutana ketika darah melaui arteriol yang memiliki resistensi tinggi.
Adapun kesalahan yang terjadi dalam percobaan ini yakni semakin lama gambar mikrosirkulisai pada bagian lidah katak semakin lama semakin tidaka nampak. Pada dasarnya mikrosirkulisi ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu intrinsik dan ekstrinsik














BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
• Mikrosirkulasi adalah system perderan darah kecil yang dimulai dari arteriole kapiler venule, dimana semuanya hanya dapat dilihat secara mikroskopik.
• Arteriol adalah pembuluh resistensi utama pada pohon vaskuler. Dinding arteriol hanya sedikit mengandung jaringan ikat elastik. Namun, pembuluh ini memiliki lapisan otot polos yang tebal yang banyak dipersarafi oleh serta saraf simpatis. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat aktifitas kontraktil otot polos arteriol :
1. Kontrol Lokal (intrinsik) : Pengaruh Kimiawi Lokal ; Perubahan Metabolik Lokal, Pengeluaran Histamin. Pengaruh Fisik Lokal ; Panas atau dingin, Repon miogenik terhadap peregangan.
2. Kontrol Ekstrinsik : Kontrol ekstrinsik terhadap jari-jari arteriol mencakup pengaruh-pengaruh saraf dan hormonaldenag efek system saraf simpatis.

B. SARAN
Dalam melakukan praktikum ini seharusnya kita lebih teliti, agar tidak terjadi kesalah di saat melakukan praktikum, yakni mengetahui lebih detail cara-cara kerjanya.







BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1. Sherwood lauralee. 2001. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Penerbit buku kedokteran EGC : jakarta
2. Ganong W. F. 2001. Fisiologi Manusia (Review of Medical Physiologi). Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta
3. Ganong W.F. 2003. Review of Medical Physiology. Lange Medical Books, McGraw-Hill
4. http://en.wikipedia.com
5. http://about.com
6. www.google.com















BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Refleks merupakan gerakan yang terjadi secara tiba-tiba. Misalnya ketika kaki seseorang tanpa sengaja menginjak paku maka secara spontan seseorang akan langsung refleks menggerakkan kakinya ini dikarenakan adanya rasa sakit yang dirasakan oleh kaki namun sebelumnya seseorang tidak mengetahui rangsangan dari luar tersebut yang akhirnya menimbulkan refleks. Informasi sensoris diintegarsikan pada semua tingkat sistem saraf dan menyebabkan reaksi motorik yang teapat, mulai didalam medula spinalis dengan refleks-refleks yang relatif sederhana, diperluas di batang otak dengan reaksi yang lebih rumit dan akhirnya diperluas di serebrum tempat reaksi-reaksi yang rumit dikendalikan. Namun, selain refleks yang terjadi karena tidak diperkirakannya rangsangan dari luar adapula refleks yang terjadi tetapi kita mengetahui adanya rangsangan dari luar. Misalnya bola mata seseorang dengan sengaja disentuh tiba-tiba mata seseorang tersebut berkedip. Adanya rangsangan dari luar ini diketahui, tetapi mengapa kita tidak bisa mengendalikan untuk tidak berefleks padahal kita mengetahui adanya rangsanagan tersebut. Untuk mengetahui hal tersebut, akan dibahas dalam percobaan ini.

B. TUJUAN
1. mengetahui cara-cara memeriksa refleks-refleks fisiologi pada manusia
2. mengatahui ada tidaknya gangguan konduksi implus pada sistem saraf





BAB II
TINJAUAN PUSATAKA

Refleks adalah gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsang. Pada manusia gerak refleks terjadi melalui reflex arc. Gerak refleks dapat digunakan pada pemeriksaan neurologis untuk mengetahui kerusakan atau pemfungsian dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi.Gerak refleks dapat dilatih misalnya pengulangan dari gerakan motorik pada latihan olah raga atau pengaitan dari rangsang oleh reaksi otomatis selama pengkondisian klasikal. (http://en.wikipedia.com,2008)
Rangsang atau stimulus adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk menjelaskan suatu hal yang merangsang terjadinya respon tertentu. Rangsang merupakan informasi yang dapat diindera oleh panca indera. Teori Behaviorisme menggunakan istilah rangsang yang dipasangkan dengan respon dalam menjelaskan proses terbentuknya tingkah laku . Rangsang adalah suatu hal yang datang dari lingkungan yang dapat menyebabkan respon tertentu pada tingkah laku. Jika rangsang dan respon dipasangkan atau dikondisikan maka akan membentuk tingkah laku baru terhadap rangsang yang dikondisikan. (http://en.wikipedia.com,2008)
Respon adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk menamakan reaksi terhadap rangsang yang diterima oleh panca indera. Respon biasanya diujudkan dalam bentuk perilaku yang dimunculkan setelah dilakukan perangsangan. . (http://en.wikipedia.com,2008)
Unit dasar yang mengintegrasikan aktivitas refleks adalah busur refleks. Busur refleks ini terdiri dari suatu organ perasa, satu neuron efferen, satu effector, satu atau lebih sinaps yang menyatu di suatu stasiun pusat atau pusat saraf simpatis. Neuron aferen masuk melalui akar dorsal atau saraf kranium dan mereka mempunyai tubuh-tubh sel di dalam ganglia akar dorsal. Kemudia serabut eferen keluar melalui akar yang mengenai sirip perut adalah motor. Hal ini berkenaan dengan prinsip yang menyatakan di dalam saraf dalam tulang punggung terhadap akar dorsal bersifat berhubungn dengan perasaan dan akar yang mengenai sirip perut adalah motor yang dikenal dengan hukum Bell-Magendie. Refleks yang paling sederhana adalah hubungan antara satu sinapis, yakni antara efferen dengan neuro eferen. Lingkungan seperti itu bersifat monosimpatis dan refleks yang terjadi pada mereka bersifat monosimpatis. Sedangkan busur refleks dimana satu atau lebih interneuron bersifat polisimpatis, yaitu sinaps di dalam lingkungan yang bermacam-macam. Dari dua jenis ini yang paling utama adalah polisimpatis. (Ganong, 2003 translate)
Substansi gricea medulla spinalis merupakan daerah integartif untuk refleks-refleks medulla spinalis dan fungsi motorik lainnya.isyarat-isyarat sensoris memasuki medulla spinalis melalui radiks sensoris. Setelah memasuki medulla spinalis, tiap isyarat sensoris berjalan kedua tujuan terpisah. Dalam segmen medula spinalis yang sama atau berdekatan, saraf sensoris atau kolateralnya berakhir dalam substansi grisea medula spinalis dan menimbulkan respon setempat, efek eksitasi, efek fasilitasi, refleks setempat dan lain sebagainya. Isyarat tersebut berajalan ketingkat sistem yang lebih tinggi di dalam medula spinalis itu sendiri, ke batang otak bahkan ke korteks serebri. Isyarat sensoris inilah yang menyebabkan refleks sensoris. Tiap segmen medulla spinalis mempunyai beberapa juta neuron di dalam substansi griseanya. Selain neuron penghantar sensoris sisa neuron ini dibagi menjadi dua jenis yaitu metoneuron dan intermediate cell.
(Guyton, 2002)

Resptor Sensoris
Resptor sensorik merupakan sel yang terspesialisai. Setipa reseptor bersepon terhadap satu jenis stimulus; sifat ini disebut spesifitas resptor.stimulus yang efektif menimbulkan respon yang disebut respon adekuat.
Proses transduksi. Beberapa resptor hanya terdiri dari satu serabut saraf saja, reseptor memiliki struktur aksesiris terspesialisasi dan reseptor lainnya lebih kompleks dan tersusun dari sel reseptor terspesialisasi yang bersinaps dengan neuron, yaitu suatu sel sensorik sekunder.
Mekanoreseptor. Mekanoreseptor terdapat diseluruh tubuh. Mekanoreseptor diseluruh kulit memiliki tiga kualitas utama: tekanan, sentuhan dan getaran. Berdasarkan hasil penelitian tentang kapan berbagai reseptor memberikan memberikan respon terhadap stimulus kontan, maka reseptor ini bisa dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan sifat adaptasi: reseptor yang berdaptasi lambat yang akan terus meletupkan potensial aksi bahkan jika tekanan menetap dalam waktu yang lama; reseptor yang beradaptasi dengan kecepatan moderat/ sedang yang meletupkan potensial akis sekitar 50-500 milidetik setelah onset stimulus, bahkan jika tekanan menetap; reseptor yang sangat cepat berdaptasi yang meletupkan satu atau dua jenis implus.
Ujung saraf bebas setiap saraf kulit selain memiliki serabut eferen bermielin besar, juga memiliki banyak akson yang lebih kecil dan tidak bermielin.beberapa serabut C merupakan serabut eferen pascaganglion simpatis. Namun demikian banyak serabut yangtersisa merupakan eferen yang berakhir diujung bebas dan tidak distruktur korpuskel. Banyak serabut saraf ini merupakan termoreseptor dan nosiseptor.
Termoreseptor memperantarai sensasi dingin dan hangat. Pada kulit manusia terdapat titik dingin dan hangat yang spesifik dimana sensai dingin saja atau hangat saja yang akan timbul. Resptor ini memiliki karakteristik yang sama seperti: memperthankan pelepsan muatan listrik, memiliki lapang reseotif kecil dan tidak hanya brertindak sebagai sensor sensasi temperatur secara sadar.
Nosiseptor dan nyeri. Nyeri menginformasikan kepada tubuh jika teraktivasi stimulus noksius (perusak jaringan). Nosisepsi didefenisikan sebagai resepsi, konduksi, dan proses sentral sinyal noksius. Istilah ini digunakan untuk membedakan dengan jelas antara proses neuronal ’objektif’ dengan sensasi nyeri yang ’subjektif’ yang didefenisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dan berhubungan dengan kerusakan potensial atau kerusakan aktual.
Nosiseptor terdapat pada kulit, organ viseral dan otot jantung dan rangka, serta pembuluh darah.kualitas nyeri dibagi menjadi nyeri somatik dan nyeri viseral.nyeri somatik ynag berasal dari kulit disebut sebagi nyeri supervisial dan jika nyeri berasal dari otot , persendian tulang atau jaringan ikat disebut nyeri dalam. Nyeri superfisial mengabatkan seseorang merasa nyeri yang tajam misalny pada kulit, terlokalisasi, sering diikuti dengan nyeri ikutan. Nyeri dalam bersifat tumpul, sulit dilokalisasi dan cenderung menjalar ke sekitarnya.
Reseptor tubuh dalam hal tekanan dan penderitaan serta respon autonom dan motorik terhadap nyeri bergantung pada kualitas nyeri. Nyeri ikutan dan nyeri dalam disertai perasaan yang tidak menyenangkan , an sering menimbulkan refleks autonom seperti nausea (mual), berkeringat banyak dan penurunan tekanan darah. Sebaliknya nyeri awal memberikan respon positif yaitu refleks gerakan menarik tangan dengan fleksi . nyeri viseral (nyeri dari organ dalam seperti ginjal, lambung dan katong empedu) cenderung bersifat tumpul dan difus menyerupai nyeri dalam.
Pengaruh inhibisi seperti semua input sensorik. Implus aferen nosisepptor terpajan pengaruh inhibisi pada tingkat reseptor disepanjang jalan dan melalui medulla spinalis dan tingkat lebih tinggi di sistem saraf pusat. Menurut lokasinya, reseptor dapat terbagi atas:
1. eksteroreseptor adalah reseptor yang memberikan respons terhadap stimulus yang datang dari luar tubuh kita seperti cahaya, suara, bahan kimia dan lain sebagainya. Eksteroreseptor merupakan reseptor yang serabutnya terutama menimbulakan perasaan sadar.
2. interoreseptor adalah reseptor dari sistem saraf otonom dan disebut juga viseroreseptor yang memberikan persaan sadar dan juga mempunyai fungsi regulasi
3. propioseptor adalah reseptor yang terutama mempunyai fungsi regulasi dan hampir seluruhnya adalah mekanoreseptor yang memberikan sinyal tentang kecepatan dan besarnya regangan dan tegangan otot.
(Jerimy, dkk, 2007)

Muscle spindle dan organ tendo golgi, kedua resptor ini bekerja sepenuhnya pada tingkat bawah sadar, sehingga sama sekali tidak menyebabkan presepsi sensoris. Tetapi mereka benar-benar mengirimkan banyak sekali informasi kedalam medula spinalis dan juga serebelum, dengan demikian membantu kedua sistem saraf ini melakukan funsi mereka dalam mengatur kontraksi otot. (Guyton, 2002)

Refleks-Refleks Regang
Refleks regang dinamik, diseabakan oleh isyarat dinamis yang kuat dari muscle spindle yaitu bila otot tiba-tiba diregangkan suatu isyarat kuat dikirimkan ke medula spinalis dan meyebabkan kontaksi lefkes dari otot yang sama.
Refleks regang statik, refleks ini menyebabkan kontraksi otot selama otot tersebut dipertahankan pada suatu panjang yang berlebihan
Refleks regang negatif, refleks ini menentang pemendekan otot. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa refleks muscle spindle cenderung untuk memeprtahankan status quo untuk panajang suatu otot.
Penerepan klinis untuk refleks regang ini adalah sentakan lutut dan sentakan otot lainnya.
(Guyton, 2002)

Refleks Tendo
Organ tendo bila diregangkan dihantarkan kedalam medula spinalis untuk menyebabkan efek refleks pada otot yang bersangkutan. Tetapi refleks ini menghambat otot bukannya merangsangnya. Fungsi refleks tendo sebagai bagian dari seluruh pengaturan kontraksi otot dengan cara sebagai suatu mekanisme pengaturan untuk ketegangan otot.

Refleks Fleksor
Hampir tiap rangsangan sensoris kesuatu tungkai mungkin menyebabkan otot-otot fleksor ekstremitas tersebut berkontraksi kuat, dengan demikian menjauhkan ekstremitas tersebut dari rangsangan. Ini disebut refleks fleksor. Refleks ini sering dibangkitkan oleh perangsangan ujung nyeri seperti dengan tusukan jarum, rasa panas atau beberaopa rangsangan yang menyakitkan lainnya. Dalam hal ini, suatu rangsangan menyakitkan dilakukan pada tangan ; sebagai akibatnya otot-otot fleksor lengan atas menjadi terangsang secara refleks, sehingga menarik tanaga dari rangsangan yang menyakitkan itu.

Refleks Ekstensor Menyilang
Refleks ekstensor menyilang, ekstremitas yang berlawanan jelas dapat mendorong seluruh tubuh melalui benda yang meneybabkan rangsangan yang menyakitkan. Isyarat dari saraf sensoris meneyebrang ke sisi medula spinalis yang berlawan untuk menyebabkan reaksi yang tepat berlawanan dengan yang menyebabkan refleks fleksor yaitu mengekstensikan ekstermitas.

Persarafan Timbal Balik
ekstensi atau kelompok otot sering dihubungkan dengna inhibisi kelompok lain, mekanisme yang menyebabkan hubungan timbal balik ini disebut persarafan timbal balik. Prinsip persarafan timbal balik penting penting dalam kebanyakan refleks medula spinalis yang berguna untuk pergerakan, karena ia membantu menyebabkan gerakan ke depan dari suatu ekstremitas sementara sedang menyebabkan gerakan kebelakang dari ekstremitas yang berlawanan, dan ia juga menyebabkan gerakan bergantian dianatara kaki depan dan belakang.

Refleks-Refleks Medula Spinalais yang Menyebabkan Spasme Otot
Rangsang nyeri dapat menyebabkan spasne refleks dari otot-otot setempat, yang agaknya merupakan penyebab dari banyak atau sebagian dari spame otot yang terlihat pda daerah setempat di dalam tubuh manusia.
Spasme abdomen dalam peritonitis, yang disebabkan oleh irirtasi peritoneum parietale oleh perioritis yang menyebabkan otot-otot abdomen berkontraksi secara luas dan kadang-kadang benar menonjolkan usus tersebut melalui luka pembedahan.
Kejang otot, faktor iritasi atau kelainan metabolik lokal apapun dari suatu otot seperti, dingin luar biasa, kurangnya aliran darah ke otot atau gerakan otot yang berlebihan. Hal ini apat menimbulkan nyeri atau jenis implus sensoris lainnya yang dihantarkan dari otot tersebut ke medula spinalis sehingga menyebabkan otot secara refleks.
(Guyton, 2002)
Spasticity kaku atau kaku otot dengan berlebihan, refleks tendon dalam (misalnya, knee-jerk refleks). Kondisi dapat mengganggu berjalan, gerakan, atau ucapan. Spasticity umumnya hasil dari kerusakan pada bagian otak yang mengontrol gerakan sukarela. Mungkin juga terjadi bila Anda telah merusak perjalanan dari saraf otak ke sumsum tulang belakang.
Gejala Spasticity meliputi:
a. Berlebih-lebihan dalam refleks tendon (lutut-jerk atau refleks)
b. Scissoring (penyeberangan kaki sebagai ujung gunting akan menutup)
c. Repetitive dendeng mosi (clonus), terutama ketika disentuh atau pindah
d. Unusual bergaya
e. Carrying bahu, lengan, pergelangan tangan, dan jari pada sudut yang abnormal karena keketatan otot (about.com)
















BAB III
METODOLGI

A. ALAT DAN BAHAN
1. Palu perkusi
2. lampu senter
3. kapas
4. jarum

B. CARA KERJA
a. Refleks kulit perut
Orang coba berbaring terlentang dengan kedua tangan terletak lurus di samping badan. Goreslah perut didaerah abdomen dari arah lateral ke arah umbilikus. Respon yang terjadi berupa kontraksi otot dinding perut
b. Refleks kornea
Sediakanlah kapas yang digulung menjadi bentuk silinder halus. Orang coba menggerakkan bola mata ke lateral yaitu dengan melihat kesalah satu sisi tanpa menggerakkan kepala. Sentuhlah dengan hati-hati sisi kontralateral kornea dengan kapas. Respon yang terjadi berupa kedipan mata secara cepat
c. Refleks cahaya
Cahaya center dijatuhkan pada pupil salah satu mata orang. Respon berupa kontraksi pupil homolateral dan kontra lateral
d. Refleks periost radialis
Lengan bawah orang coba setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan sediki dipronasikan. Ketuklah periosternium pada ujung distal os radii. Respon berupa fleksi lengan bawah siku dan supinasi tangan
e. Refleks periost urnalis
Lengan bawah tangan setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan antar pronasi dan supinasi. Ketuklah pada processus stiloideus. Respon berupa pronasi tangan

f. Strech refleks
1. Knee pess reflex (KPR)
Rang coba duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai akan tergantung bebas atau orang coba berbaring terlentang dengan fleksi tungkai pada sensi lutut. Ketuklah tendo patella dengan hammer sehingga terjadi ekstensi tungkai desertai kontraksi otot kuadrisep
2. Achilles pess reflex (APR)
Tungkai difleksikan pada sendi lutut dan kaki diorsofleksikan. Ketuklah tendo achilles, sehingga terjadi plantar fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastroknemius
3. Refleks biseps
Lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi siku, ketuklah pada tendo otot biseps akan menyebabkan fleksi lengan pada siku dan tampak kontraksi otot biseps
4. Refleks triseps
Lengan bawah coba difleksikan pada sendi siku dan sedikit dipronasikan. Ketuklah pada tendo otot triseps 5 cm di atas siku akan menyebabkan ekstensi lengan dan kontraksi otot trisep







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PERCOBAAN
1. percobaan refleks kornea (orang coba : Thalib Rifky)
pertama-tama orang coba menggerakkan bola matanya ke arah lateral, kemudian asisten menyentuhkan kapas yg telah di gulus pada sisi kontralateral kornea orang coba dan refleks yang terjadi orang coba langsung mengedipkan matanya secara cepat

2. percobaan refleks cahaya (orang coba : A.Akbar Muhrano)
orang coba memandang lurus kedepan, kemudian asisten menyenter mata orang coba dengan menjatuhkan cahaya disalah satu pupil mata orang coba dan respon yang terjadi berupa pupil berkontaksi secara homolateral dan kontra lateral

3. percobaan refleks periost radialis (orang coba : Dewi Sartika)
pertama-tama orang coba memfleksikan lengan bawahnya dan tangannya sedikit dipronasi. Kemudian asisten mencoba mengetuk periosteum orang coba menggunakan palu perkusi. Pada dasarnya periosteum sulit di dapat jika diperiksa dari luar. Namun,Seharusnya respon yang terjadi yakni tangan bersupinasi

4. percobaan refleks periost urnalis (orang coba : Dewi Sartika)
pertama-tama orang coba memfleksikan lengan bawah pada sendi diku dan tangannya antara pronasi dan supinasi. Kemudian asisten mengetuk processus stiloideus orang coba dan respon yang terjadi berupa pronasi tangan

5. percobaan stretch refleks
a. knee pess refleks (orang coba : Hardianti A.R)
orang coba duduk di tempat yang agak tinggi sehingga kakinya tergantung, kemudian asisten mengetukkan palu perkusi pada bagian patella orang coba dan refleks yang terjadi kaki orang coba bergerak ekstensi

b. achilles pess refleks (orang coba : Hardianti A.R)
orang coba memfleksikan tungkainya pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan, kemudian tendo achillesnya diketuk dengan menggunakan palu perkusi dan refleks yang terjadi kakinya bergerak fleksi
c. refleks biseps (orang coba : firdasari Bustamin)
lengan orang coba setengah difleksikan pada sendi diku, kemudian tendo otot bisepnya diketuk dan terjadi refleks berupa fleksi lengan pada siku
d. refleks triseps (orang coba : firdasai Bustamin)
lengan bawah orang coba difleksikan pada sendi siku dan sedikit dipronasikan. Kemudian tendo otot trisepnya diketuk pada bagian 5 cm diatas sikunya dan terjadi refleks berupa ekstensi pada lengan

B. PEMBAHASAN
a. Refleks kornea
Pada percobaan ini kornea mata orang coba disentuhkan kapas dan refleks yang terjadi mata berkedip secara cepat, hal ini karena adanya rangsangan dari luar yang dirasakan oleh kornea, dalam hal ini yang merasakan rangsangan adalah N.V dan eferennya (refleks berupa kedipan) berasal dari N.VII.
b. Refleks cahaya
Berdasarkan percobaan yang dilakukan hasil yg diperoleh yakni pupil orang coba mengecil hal ini terjadi sebab Pupil dapat mengecil pada akomodasi dan konversi. Akomodasi adalah kemampuan lensa mata untuk mencembung akibat kontraksi otot siliaris. Otot siliaris atau otot polos dapat merenggang dan mengendorkan selaput yang menggantungkan lensa. Akomodasi dapat menyebabkan daya pembiasan lensa bertambah kuat. Selain akomodasi, terjadi konversi sumbu penglihatan dan kontriksi pupil bila seseorang melihat benda yang dekat. Memgecilnya pupil karena cahaya ialah lebarnya pupil diatur oleh iris sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima oleh mata. Ditempat yang gelap dimana intensitas cahayanya kecil maka pupil akan menbesar, agar cahaya dapat lebih banyak masuk kemata. Ditempat yang sangat terang dimana intensitas cahayanya cukup tinggi atau besar maka pupil akan mengecil, agar cahaya lebih sedikit masuk kemata untuk menghindari mata agar tidak perih, bila mata diarahkan kesalah satu mata pupil akan berkontraksi. Daya akomodasi mata diatur melalui syaraf parasimpatis, perangsangan syaraf parasimpatis menimbulkan kontraksi otot siliaris yang selanjutnya kan mengendurkan gligamen lensa dan meningkatkan daya bias. Dengan meningkatkan daya bias, mata mampu melihat objek lebih dekat dibanding waktu daya biasnya rendah. Akibatnya dengan mendekatnya objek kearah mata frekuensi impuls parasimpatis kedotsiliaris progresif ditingkatkan agar objek tetap dilihat dengan jelas.
c. Refleks periost radialis dan ulnaris
Pada percobaan ini, semua percobaan yang dilakukan pada orang coba, semuanya sudah sesuai dengan teori yang ada yakni adanya respon berupa supinasi tangan pada persobaan periost radialis dan respon berupa pronasi tangan pada percobaan periost ulnari. Hal ini terjadi karena adanya persarafan timbal balik yang sebelumnya telah dijelaskan, yakni ketika periosteum an processus stiloideus di ketuk yang mengadakan reflaeks malah tangan
d. Strech refleks
Pada percobaan ini, semua percobaan yang dilakukan pada orang coba, semuanya sudah sesuai dengan teori yang ada yakni menimbulkan respon berupa fleksi pada percobaan KPR dan refleks biseps serta respon berupa ekstensi pada perobaan APR dan refleks trisep. Respon ini terjadi karena adanya proprioreseptor yakni reseptor yang memberikan sinyal tentang kecepatan dan besarnya regangan serta tegangan otot, dimana reseptor ini merupakan reseptor sensoris yang memberikan respons terhadap rangsangan yang ditimbulkan oleh pergerakan aktif otot atau perubahan posisi.reseptor ini diantaranya terdapat pada tendo dan persendian.




























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil praktikum yang diperoleh sesuai dengan teori-teori yang ada, yakni apabila kornea disentuh akan berespon mata langsung berkedip, pupil yang dijatuhkan cahaya akan berespon pupil berkontraksi homolateral, periosteum yang diketuk responya berupa tangan bersupunasi, processus stiloideus yang diketuk responnya berupa pronasi tangan, patella yang diketuk berespon berupa ekstensi tungkai, tendo achilles yang diketuk akan berespon berupa fleksi pada plantar kaki, tendo otot biseps yang diketuk menyebabkan fleksi lengan dan tendo otot triseps yang diketuk menyebabkan ekstensi lengan.

B. SARAN
1. Paraktikan harus mengetahui letak periosteum orang coba, agar pada perobaan refleks periost radialis dapat betul-betul terlihat respon yang terjadi yakni terjadinya gerakan supinasi tangan
2. Paraktikan harus mengetahui letak periosteum orang coba, agar pada perobaan refleks periost ulnaris dapat betul-betul terlihat respon yang terjadi yakni terjadinya gerakan pronasi tangan







BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1. Ganong W.F. 2003. Review of Medical Physiology. Lange Medical Books, McGraw-Hill
2. Jerimmy, dkk. 2007
3. Guyton A.C. 2002. Fisiology Manusia dan Mekanisme Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
4. http://en.wikipedia.com
5. www.vanillamist.com
6. http://about.com



















BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tekanan darah merupakan gaya yang ditimbulkan oleh darah terhdap dinding pembuluh, bergantung pada volume darah\ yang terkandung didalm pembuluh dan daya regang serta sinsing pemb uluh yang bersangkutan. Tekanan darah yang paling penting adalah tekana rata-rata sebab tekanan ini yang bertanggung jawab mendorong darah maju kejaringan selama seluruh siklus jantung.
Tekanan di dalam aorta dan dalam arteri brakialis dan arteri besar lain pada orang dewasa mudah meningkat mencapai nilai puncak (tekanan sisitolik) kira 120 mmHg selama tiap siklus jantung dan turun kenilai minimal (tekanan diastolik), sekitar 70 mmHg. Beberapa pengaturan mekanisme tekanan bekerja dengan cepat dan beberapa bekerja sangat lambat. Namun, dalam hal ini tekanan darah tiap oarng berbeda-beda dan ada pula faktor ekstrinsik dan intriksik yang dapat mengatur tekanan darah seseorang. Tekanan darah seseorang dapat diukur dengan menggunakan sfigmomanometri dengan menggunakan 2 metode, yakni cara palapasi dan cara auskultasi. Bagaimana cara mengetahui semua itu, akan dibahas didalam makalah laporan percobaan ini.

B. TUJUAN PERCOBAAN ATAU PRAKTIKUM
1. Mempelajari cara-cara pengukuran tekanan darah arteri
2. mempelajari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah secara fisiologis





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tekanan darah yang ditimubulkanoleh darah terhadap dinding pembuluh bergantung pada vlume darah yang terkandung didalam pembuluh yang bersangkutan. Apabila volume darah yang masuk arteri sama dengan volume darah yang meninggalkan arteri selama periode yang sama akan konstan.. tekanan maksimum yang ditimbulkan diarteri sewaktudarah disemprotkan masuk kedalam arteri sela sitol disebut tekanan sistolik. Tekanan minimum di dalam arteri sewaktu darah mengalir keluar ke pembuluh hilir selama diastol yakni tekanan diastol. Sedangkan perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan nadi. Yang lebih penting dari fluktuasi tekanan sistolik dan diastolik adalah tekanan rata-rata , yaitu tekanan yang bertanggung jawab mendorong darah maju ke jaringan selama siklus jantung. (sherwood, 2001)

Metode Pengukuran Tekanan Darah
a. metode auskultasi
Metode auskultasi dilakukan dengan cara suatu manset yang dapat dipompa (manset riva-rocci) dihubungkan pada maonometer (sfigmanometer) air raksa kemudian dililitkan di sekitar lengan dan stetoskop diletakkan di atas arteri brakialis pada siku. Manset secara cepat dipompa sampai tekanan di dalamnya di atas tekanan sistolik yang diharapkan dalam arteri brakialis. Arteri dioklusi oleh mangset dan tidak ada suara yang didengar oleh stetoskop. Kemudian tekanan dalam manset diturunkan secara perlahan-lahan. Poada titik tekanan sistolik dalam arteri tepat melampaui tiap denyut jantung dan secra sinkron dengan tiap denyut bunyi ditekan dan diddengar di bawah manset. Tekanan manset pada waktu bunyi pertama terdengar adalah tekanan sistolik. Dengan menurunnya tekanan, suara menjadi lebih keras, kemudian tidak jelas. Ini adalah bunyi korotkoff. Metode auskultasi adalah akurat apabila dipergunakan secar cepat, tetapi beberapa pertimbangan harus diamati.(Ganong, 2001)
b. metode palpasi
Tekanan sistolik dapat diketahui dengan memompa manset lengan kemudian membiarkan tekana turun dan tentukan tekanan pada saat denyut radialis pertama kali teraba. Oleh karena kesulitan menentukan secara pasti kapan denyut pertama teraba, tekanan yang biasa diperoleh dengan tekanan palpasi biasanya 2-5 mmHg lebih rendah dibandingkan dengan yan diukur dengan metode auskultasi. (Ganong, 2001)

Tekanan Darah Arteri Normal
Tekanan darah dalam arteri brakialis pada orang muda dewasa pada posisi duduk istirahat, atau duduk berbaring medekati 120/70 mmHg. Cukup kelihatan lebih rendah pada malam hari dan pada perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Karena tekanan darah arteri adalah curah jantung tehanan perifer, dipengaruhi oleh kondisi yang memepengaruhi salah satu kedua faktor tersebut.secra umum tekanan curah jantung meningkatkan tekanan sistolik, sedangkan tingkatan tahan perifer meningkatkan tekanan diastolik. Terdapat kontrofersi mengenai batas penentuan tekanan darah normal dan tinggi (hipertensi) tertuma pada orang tua. (Ganong, 2003 translate)

Keseluruhan Sistem Pengatur Tekanan Arteri
Tekanan arteri tidak diatur oleh satu sistem pengatur tekana saja, tetapi oleh beberapa sistem yang saling berhubungan yang melakukan fungsi-fungsi khusus. Bila seseorang mengeluarkan darah dalam jumlah banyak dan tekanannya turun secara tiba-tiba, sistem pengaturan segera menghadapi dua masalah. Pertama, membalikka tekanan arteri denga segera dan yang kedua adalah mengembalikan volume darah yang pada akhirnya ke tingkat yang normal.
Dua masalah ini menandai dua jenis utama dari sistem pengaturan tekanan arteri di dalam tubuh,
1. Mekanisme pengatur tekanan yang bekerja dengan cepat
Beberapa mekanisme pengontrolan tekanan berbeda, yang kesemuanya merupakan umpan balik saraf, mulai bereaksi dalam beberapa detik. Termasuk mekanisme umpan balik baroreseptor dan mekanisme iskamia susunan saraf pusat. Jadi garis pertahanan pertama tekanan yang abnormal dibantu oleh mekanisme saraf untuk mengontrol teknan arteri.
2. Mekanisme untuk pengaturan tekanan arteri jangka panjang
Pengaturan jangka panjang dilakukan oleh suatu pengaturan mekanisme ginjal-volume cairan-tekanan. Mekanisme ini melibatkan pengaturan fungsi ginjal oleh beberapa sistem hormon berbeda. Secara khusus termasuk sistem renin-angiostensin dan hormon aldosteron yang disekresikan oleh korteks adrenal.

Kecepatan & Flow Of Darah

Walaupun kecepatan rata-rata darah di bagian proksimal aorta adalah 40 cm / s, aliran phasic, dan kecepatan berkisar dari 120 cm / s selama sistol untuk nilai negatif pada saat transien arus balik sebelum katup aortie menutup di pordons diastole.In distal aorta dan di arteries.Velocity besar juga lebih besar di sistol daripada di diastole.However, pembuluh yang elastis, dan maju aliran kontinu karena selama diastol yang takut kapal dinding yang telah membentang selama efek recoil systole.This kadang-kadang disebut efek Windkessel, dan pembuluh disebut Windkessel pembuluh; Windkessel adalah kata Jerman untuk reservoir.Pulsatile elastis aliran muncul, dalam beberapa cara yang kurang dipahami, untuk mempertahankan fungsi yang optimal dari tissues.If organ adalah perfused dengan pompa yang memberikan sebuah aliran nonpulsatile, ada peningkatan secara bertahap resistensi vaskular dan perfusi jaringan gagal (Ganong, 2003 translate)

Sistem pengatur baroreseptor arteri – Refleks-refleks baroreseptor
Mekanisme yang paling terkenal untuk mengatur tekanan arteri adalah refleks baroreseptor. Pada dasarnya refleks ini timbul di reseptor serangan yang disebut baroreseptor yang terletak di dalam diniding arteri sistemik yang besar. Suatu kenaikan dengan tekanan mengirimkan isyarat kedalam sistem saraf pusat, dan sebaliknya istarat lain dikirimkan ke sirkulasi untuk mengurangi tekanan arteri kembali ke nilai normal.
Fungsi baroreseptor selama perubahan sikap tubuh. Kemampuan baroreseptor untuk mempertahankan tekanan arteri yang relatif konstan adalah sangat penting bila orang duduk atau berdiri setelah berbaring. Segera setelah berdiri arteri di dalam kepala dan tubuh bagian atas cenderung untuk turun dengan jelas dan penurunan tekanan yang besar ini dapat menyebabkan hilangnya kesadaran. Penurunan tekanan pada baroreseptor merangsang suatu refleks segera, yang mmenimbulkan rangsang simpatis yang kuat diseluruh tubuh, dan ini menimbulkan pengurangan tekanandi dalam kepala dan tubuh bagian atas. Fungsi utama pengaturan baroreseptor arteri adalahuntuk mengurangi perubahan tekanan arteri sehari-hari menjadi kira-kira setengah sepertiga darp pada yang akan terjadi bila tidak ada sisttem baroreseptor
(Guyton, 2002)
Faktor-faktor yang dapat mempertahan aliran darah adalah sebagai berikut, (1) Kekuatan jantung memompakan darah membuat tekanan yang dilakukan jantung sehingga darah bisa beredar ke seluruh bagian tubuh dan darah dapat kembali lagi ken jantung, (2) Visikositas atau kekentalan darah,disebabkan oleh protein plasma dan jumlah sel darah ang beredar dalam aliran darah, (3) elastisitas dinding aliran darah. Didalam arteri tekanan lebih besar darip[ada di dalam vena sebab otot yang membungkus arteri lebih elastis dari pada vena, (4) tahanan tepi. Tahanan yang dikeluarkan oleh darah mengalkir dalam pembuluh darah dalam sirkulasi darah besar yang berda dalam arterial. Turunnya tekanan mengakibatkan denyut jantung pada kapiler dan vena tidak teraba.(Guyton,2007) (wikipedia, 2009)

Mekanisme pergeseran cairan kapiler untuk mengatur tekanan arteri
Perubahan tekanan arteri biasanya disertai dengan perubahan yang sama dengan perubahan tekanan kapiler yang menyebabkan cairan mulai bergerak melintasi membran kapiler diantara darah dan ruangan cairan intresitial. Misalnya jika tekanan arteri naik terlalu tinggi, hilangnya kapiler melalui ruangan intersitiel menyebabkan volume darah turun dan demikian menyebabkan tekanan arteri normal. Sebaliknya, bila tekanan tekanan turun terlalu rendah, cairan diabsorsir kedalam darah dan peningkatan volume memainkan peranan yang sangat penting menaikkan kembali tekanan yang normal (Guyton, 2002)

Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah
1. reseptor volume atrium kiri da osmoreseptor hipotalamus terutama penting dalam mengatur keseimbangan garam dan air; dengan demikian keduanya mempengaruhi regulasi jangka panjang tekanan darah dan mengontrol volume plasma
2. funsi utama kemoreseptor adalah untuk secara refelkes meningkatkan aktivitas pernafasan sehingga lebih banyak O2 atau CO2 yang masuk pembentuk asam yang keluar. Reseptor tersebut juga secara reflks meningkatkat tekanan darah dengan mengirim implus eksitator ke pusat kardiovaskuler
3. respon-respon karidovaskuler yang berkaitan dengan emosi dan perilaku tertentu. Respon tersebut mencakup perubahan luas aktivitas kardiovaskuler yang menyertai respon fight-or-fight simpatis umum.peningkatan kecepatan denyut jantung an tekanan darah yang khas pada organisme seksual dan vasodilatasi kulit lokal yang khas pada blushing
4. perubahanmencolok sistem kariovaskuler pada saat berolahraga, termsuk peningkatanbesar aliran darah otot rangka; peningkatan bermakna curah jantung; penurunan resistensi perifer lokal dan peningkatan sedang tekanan rata-rata
5. kontrol hipoltalamus terhadap arteriol kulit untuk mengatur suhu. Akibatnya tekanan darah dapat turun pada saat pembuluh kulit mengalami dilatasi menyeluruh
6. zat-zat vasokontriksi dikeluarkan dari sel endotel
7. neurotransmiter dari berbagai bagian otak mungkin ikut berperan dalam mengontrol tekanan darah
8. pengeruh perubahan sikap; pengaruh kerja otot; pengaruh berfikir serta pengaruh inspirasi dan ekspirasi
9. jenis kelamin, usia, emosi dan aktivitas tubuh (Sherwood, 2001)

TEKANAN DARAH TINGGI.
Tekanan Darah Tinggi (disebut hipertensi oleh dokter) adalah sebuah kondisi kesehatan yang terjadi ketika tekanan darah terlalu tinggi secara konsisten. Tekanan darah diukur dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah. Pengukuran menghasilkan dua angka: sebuah atas (sistolik) dan tekanan darah yang lebih rendah (diastolik) tekanan darah.
Ada beberapa kategori tekanan darah tinggi yaitu normal, pra-tekanan darah tinggi, stadium 1 tekanan darah tinggi stadium 2 dan tekanan darah tinggi. Jika salah satu angka dalam pengukuran tekanan darah Anda lebih tinggi dari biasanya, Anda harus bekerja untuk mengurangi tekanan darah melalui perubahan gaya hidup dan harus mencari perawatan seorang dokter.
Tekanan darah tinggi muncul dalam banyak jenis. Setiap jenis baik tergantung pada penyebab tekanan darah tinggi dan bagaimana tekanan darah tinggi dapat diobati.
Jenis Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
1. Essential Hipertensi adalah tipe yang paling umum. Ada spesifik dan penyebab yang mendasari hipertensi esensial. Faktor-faktor gaya hidup dan faktor-faktor risiko lainnya, meningkatkan kesempatan seseorang mendapatkan hipertensi esensial.
2. Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi kesehatan lain seperti diabetes, masalah ginjal atau tumor. Setelah kondisi lain dikontrol, tekanan darah biasanya kembali normal.
3. White Lambang Hipertensi disebabkan oleh seseorang kecemasan atau tingkat stres menjadi sangat tinggi. Beberapa orang getanxious setiap kali mereka melihat dokter dan pembacaan tekanan darah lebih tinggi dari biasanya.
4. Isolated Systolic Hypertension adalah hipertensi di mana hanya sistolik (atas) membaca tinggi. Hal ini terjadi pada orang di atas usia 65 dan disebabkan oleh pengerasan pembuluh darah.
5. Labil Hipertensi adalah ketika seseorang sering perubahan tekanan darah. Perubahan-perubahan ini dapat disebabkan oleh emosi atau stres.
6. Ganas hipertensi adalah suatu bentuk yang jarang dari hipertensi yang merupakan situasi darurat. Gejala ditetapkan sangat cepat dan ada risiko ofseizures, stroke, bahkan kematian. (about.com)














BAB III
METODOLOGI

A. ALAT DAN BAHAN
1. Alat-alat yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah :
Manometer air raksa atau aneroid.
2. Stetoskop.

B. CARA KERJA
Dalam mencatat tekanan darah secara fisiologis, orang coba harus berada dalam keadaan yang menyenangkan dan lepas dari pengaruh-pengaruh yang dapat mempengaruhi hasil pencatatan. Pencatatan tekanan darah ini adalah dengan metode tak langsung.
I. Cara palpasi (metode Riva Rocci)
Segala bentuk pakaian harus dilepaskan dari lengan atas dan manset dipasang dengan ketat dan sempurna pada lengan. Bila manset tidak terpasang dengan tepat maka dapat diperoleh pembacaan yang abnormal tinggi. Saluran karet dari manset kemudian dihubungkan dengan manometer. Sekarang rabahlah arteri radialis pada pergelangan tangan orang coba dan tekanan dalam manset dinaikkan dengan memo,pa sampai denyut nadi (denyut arteri radialis) menghilang. Tekanan dalam manset kemudian diturunkan dengan memutar tombol pada pompa perlahan-lahan yaitu dengan kecepatan kira-kira 3 mm/detik. Saat dimana denyut arteri radialis teraba kembali menunjukkan tekanan darah sistolis. Dengan metode ini kita tidak dapat menentukan tekanan darah diastolis. Metode palpasi harus dilakukan sebelum melakukan auskultasi untuk menentukan tinggi tekanan sistolis yang dihatapkan.
II. Cara auskultasi
Metode ini pertama-tama diperkenalkan oleh seorang dokter Rusia yaitu Korotkoff pada tahun 1905. Kedua tekanan sistolis dan diastolis dapat diukur dengan menggunakan metode ini, dengan cara mendengar (auskultasi) bunyi yang timbul pada arteri brachialis yang disebut bunyi Korotkoff. Bunyi ini terjadi akibat timbulnya aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh penekanan manset pada arteri tersebut. Dalam cara auskultasi ini harus diperhatikan bahwa terdapat suatu jarak paling sedikit 5 cm, antara manset dan tempat meletakkan stetoskop. Mula-mula rabahlah arteri brachialis untuk mengetahui tempat meletakkan stetoskop. Kemuadian pompalah manset sehingga tekanannya melebihi tekanan sistolis (yang diketahui dari palpasi). Turunkanlah tekanan manset perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop diatas arteri brachialis pada siku. Mula-mula tidak akan terdengar suatu bunyi kemuadian akan terdengar bunyi mengetuk yaitu ketika darah mulai melewati arteri yang tertekan oleh manset sehingga terjadilah turbulensi. Bunyi yang terdengar disebut bunyi Korotkoff dan dapat dibagi dalam empat
fase yang berbeda :
Fase I : Timbulnya dengan tiba-tiba suatu bunyi mengetuk yang jelas dan makin lama makin keras sewaktu tekanan menurun 10-14 mmHg berikutnya. Ini disebut pula nada letupan.
Fase II : Bunyi berubah kualitasnya menjadi bising selama penurunan tekanan 15-20 mmHg berikutnya
Fase III : Bunyi sedikit berubah dalam kualitas, tetapi menjadi jelas dan keras selama penurunan tekan 5-7 mmHg berikutnya.
Fase IV : Bunyi meredam (melemah) selama penurunan 5-6 mmHg berikutnya. Setelah itu bunyi menghilang.
Fase V : Titik dimana bunyi menghilang.

Permulaan dari fase I yaitu dimana bunyi mula-mula terdengar merupakan tekanan sistolis. Permulaan fase IV atau fase V merupakan tekanan diastolis, dengan perbedaan sevagai berikut : Fase IV terjadi pada tekanan 7-10 mmHg lebih tinggi daripada tekanan diastolis intra arterial yang diukur secara langsung. Fase V terjadi pada tekanan yang sangat mendekati tekanan diastolis intra arterial pada keadaan istirahat. Pada keadaan latihan otot atau pada keadaan yang meningkatkan aliran darah, maka fase V jaug lebih rendah dari tekanan diastolis yang sebenarnya. Pada anak-anak, fase IV lebih tepat digunakan sebagai index tekanan diastolis.
Catatlah hasil pemeriksaan sebagai berikut : 12/82/78,yaitu :
120 = tekanan sistolis; 82 = fase IV; 78 = fase V. Bils fase IV dan fase V adalh sama, maka ditulis : 120/78/78. Ulangilah pencatatan beberapa kali untuk memperoleh hasil yang pasti.
III. Cara Osilasi
Yaitu dengan melihat osilasi air taksa pada manometer. Manset dipompa sampai tekanannya 10-20 mmHg melebihi tekanan sistolis yang ditentukan dengan metode Riva Rocci. Tekanan manset diturunkan perlahan-lahan sambil memperhatikan air raksa manometer. Saat timbulnya asilasi pada manometer menunjukkan tekanan sistolis. Tekanan manset terus diturunkan sampai osilasi menghilang yang menunjukkan tekanan diastolis. Di dalam praktel, ketiga cara ini harus dikombinasikan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat dipercaya.

URUTAN PENGUKURAN
Mula-mula tentukan tekanan sistolis dengan cara palpasi. Kosongkan manset sebentar agar orang coba tidak merasa nyeri akibat tekanan mansetyang terlalu lama. Kemudian pompalah manset sampai tekanannya melebihi tekanan sistolis sebesar 10-20 mmHg. Letakkan stetoskop dengan hati-hati pada siku di atas arteri brachialis. Jangan terlalu keras menekan stetoskop oleh karen dapat menimbulkan turbulensi yang tidak diinginkan. Turunkan tekanan manset sembari mendengarkan bunyi yang timbul dan memperhatikan osilasi yang terjadi pada manometer. Dengan cara-cara ini pasti akan diperoleh hail yang memuaskan. Setiap kali selesai melakukan pengukuran, kosongkan manset agar orang coba tidak terganggu. Hindari kontraksi otot-otot lengan orang coba oleh karena dapat mempengaruhi hasil pencatatan.


PROTOKOL
1.) Tekanan darah istirahat.
Ukurlah tekanan darh orang coba, setelah berbaring selama 5 menit, etelah duduk 5 menit, dan setelah berdiri 5 menit. Orang coba harus berada dalam keadaan santai! Bandingkanlah hasil ketiga pencatatan ini. Dalam mencatat tekanan darah, gunakan kombinasi ketiga cara tadi.

2.) Pengaruh perubahan sikap.
Orang coba berbaring selama 5 menit. Ukurlah tekanan darah, kemudian orang coba diminta segera berdiri dan ukurlah segera tekanan darah dengan lengan lurus ke bawah. Tekanan darah diukur 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 menit sesudah berdiri.
3.) Pengaruh kerja otot.
Orang coba diminta untuk melakukan kegiatan misalnya berlari ditempat selama kurang lebih 3-5 menit kemuadian catatlah tekanan darah kontrol (sebelum kegiatan).
4.) Pengaruh berpikir.
Catatlah tekanan darah kontrol. Kemudian orang coba diminta untuk berpikir dengan kuat yaitu memecahkan soal matematika yang susah. Cststlsh trksnsn dsrshnys secepst mungkin, kslsu perlu delsgi orsng cobs berpikir. Bandingkanlah dengan tekanan darah kontrol.
5.) Percobaan Valsava (Valsava’s Maneufer).
Buatlah pencatatan kontrol. Orang coba diminta untuk melakukan ekspirasi kuat dengan glottis tertutup(mengedam). Catatlah tekanan darah pada saat ini dan bandingkan dengan tekanan darah kontrol.
6.) Percobaan Muller.
Oramg coba diminta untuk inspirasi kuat dengan glottis tertutup. Ukurlah tekanan darah dan bandingkan dengan tekanan darah kontrol.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PERCOBAAN
Adapun hasil yang didapatkan dalam percobaan ini adalah :
1. Cara palpasi
Dengan melakukan cara palpasi didapatkan tekanan sistolik yaitu:
• Meutia : 100 mmHg
• Waode yuniarti : 110 mmHg
• Mardiyah : 100 mmHg
• Mufidah : 110 mmHg
• Irmayanti : 110 mmHg
• Andi fika : 110 mmHg
2.Cara auskultasi
Nama orang coba : Andi fika
Nama pemeriksa : Irmayani
TD : 110/80 mmHg

PROTOKOL
a. tekanan darah istirahat
Nama orang coba : Waode yuniarti
Nama pemeriksa : Irmayani
Baring : 110/80 mmH
Duduk : 120/80 mmHg
Berdiri : 120/80 mmHg
b. Pengaruh perubahan sikap
Nama orang coba : indah nisita
Nama pemeriksa : ardiansyah
TD Normal : 120/80 mmHg


Menit ke:
0 : 130/80 mmHg
1 : 110/80 mmHg
2 : 110/70 mmHg
3 : 110/80 mmHg
4 : 110/80 mmHg
5 : 110/80 mmHg
c. Pengaruh kerja otot
Nama orang coba : Mufidah
Nama pemeriksa : Waode yuniarti
TD Normal : 110/70 mmHg
Setelah melakukan aktivitas : 110/70 mmHg
d. Pengaruh berpikir
Nama orang coba : aswar sandi
Nama pemeriksa : ardiansyah
TD Normal : 110/80 mmHg
Setelah berpikir : 110/90 mmHg
e. Valsava
Nama orang coba : meutia
Nama pemeriksa : Waode yuniart
TD Normal : 100/80 mmHg
Valsava : 120/90 mmHg
f. Muller
Nama orang coba : meutia
Nama pemeriksa : Waode yuniarti
TD Normal : 110/80 mmHg
Muler : 110/100 mmHg




B. PEMBAHASAN
1. Cara Palpasi
Cara palpasi hanya dapat menentukan tekanan diastole dimana pada percobaan ini tekanan diastole didapatkan berkisar antara 100 mmHg sampai 110 mmHg. Palpasi dilakukan sebelum melakukan auskultasi karena dari pengukuran palpasi kita akan mendapatkan nilai standar patokan untuk mengukur tekanan darah dengan cara auskultasi.
2. Cara Auskultasi
Cara auskultasi dilakukan untuk mendengar bunyi pada stetoskop dalm hal ini untuk menentukan tekanan darah orang coba dan didapatkan tekanan sistolle yang sama dengan cara palpasi yaitu 110/80 mmHg. Timbulnya bunyi pada pada pemeriksaan terutama disebabkan oleh semburan darah yang melewati pembuluh yang mengalami hambatan parsial. Semburan darah ini menimbulkan aliran turbulen di dalam pembuluh yang terletak di luar area manset, dan keadaan ini akan menimbulkan getaran yang terdengar melalui stetoskop yang dikenal dengan bunyi Korotkoff.

PROTOKOL
1. Tekanan Darah Istirahat
Pada protocol ini didapatkan tekanan darah orang coba ketika baring 110/80 mmHg dan meningkat ketika duduk menjadi 120/90 mmHg. Peningkatan ini menunjukkan bahwa posisi tubuh berpengaruh terhadap tekanan darah meskipun pada saat perubahan posisi dari duduk ke berdiri tidak mengalami perubahan karena mungkin diopengaruhi oleh beberapa factor misalnya kesalahan pengukuran atau kurangnya keakuratan alat. Peningkatan tekanan darah ini terjadi karena adanya gaya grafitasi yang memepengaruhi tekanan pompa jantung lain halnya pada saat berbaring letak estermitas atas dan bawah sejajar dengan jantung sehingga kecepatan aliran darah standar. Tapi bila dalam keadaan berdiri bagian ekstermitas atas dan kepala lebih tinggi dari jantung sehingga agar supaya darah dapat sampai ke tempat yang dituju dengan pasokan yang sama dengan pada waktu berbaring, maka diperlukan tekanan pompa yang besar sehingga sehingga curah meningkat kemudian aliran balik vena meningkat dan sleanjutnya meningkatkan tekanan darah.
2. Pengaruh Perubahan Sikap
Perubahan sikap dapat mempengaruhi tekanan darah dimana tekanan darah meningkat yang semula duduk orang coba memiliki tekanan darah sebesar 120/80 mmHg meningkat ketika berdiri menjadi 130/80 mmHg. Hal ini karena adanya gaya grafitasi karena darah akan mengumpul pada pembuluh kapasitas vena ekstermitas inferior. Sehingga darah akan terlokalisir pada suatu tempat. Pengisian atrium kanan jantung akan berkurang sehingga pada posisi berdiri akan terjadi penurunan sementara. Setelah beberapa menit kemudian tekanan darah akan kembali normal karena sudah mulai beradaptasi dengan perubahan posisi tubuh. Hal ini karena adanya baroresptor yang menjaga tekanan arteri di kepala dan tubuh bagian atas tetap konstan. Karena tekanan arteri meningkat, baroreseptor sinus karotis dan lengkung aorta meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron aferen. Setelah mendapatkan informasi bahwa tekanan arteri terlalu tinggi oleh peningkatan potensial tersebut, pusat kontrol kardiovaskuler berespons dengan mengurangi aktivitas simpatis dan meningkatkan aktivitas parasimpatis ke system kardiovaskuler. Sinyal-sinyal eferen ini menurunkan kecepatan denyut jantung, menurunkan volume sekuncup, dan menimbulkan vasodilatasi arteriol dan vena, yang pada gilirannya menurunkan curah jantung dan resistensi perifer total, sehingga tekanan darah kembali ke tingkat normal.
3.Pengaruh Kerja Otot
Pada percobaan ini didapatkan tekanan darah orang coba sebelum dan sesudah melakukan aktivitas adalah sama. Akan tetapi, secara fisiologis tekanan darah setelah melakukan aktivitas seharusnya meningkata. Hal inbi mungkin disebabkan karena ketidakakuratan alat atau orang coba sering berolahraga sehingga tekakan darahnya tidak segera mengalami perubahan dibandingkan orang-orang yang tidak sering berolahraga.
Ketika kita beraktivitas maka otot-otot akan saling berkontraksi. Dalam proses kontraksi, otot memerlukan suplai oksigen yang banyak uantuk memenuhi kebutuhan akan energi. Darah sebagai media yang bertujuan untuk menyuplai O2 harus segera memenuhinya. Oleh karena itu, curah jantung akan ditingkatkan ubntuk memenuhi kebutuhan darah terseburt dan selanjutnya akan meningkatkan aliran darah. Selain itu, perangsangan implus simpatis menyebabkan vasokonstriktor pembuluh darah pada tubuh kecuali pada otot yang aktif, terjadi vasodilatasi. Hal inilah yang menyebabkan tekanan darah akan meningkat setelah melakukan aktivitas fisik. Selain itu, sewaktu otot-otot itu berkontraksi, otot-otot tersebut menekan pembuluh darah di seluruh tubuh. Akibatnya terjadi pemindahan darah dari pembuluh perifer ke jantung dan paru. Dengan demikian akan meningkatkan curah jantung yang selanjutnya m,eningkatkan tekanan darah.
4. Pengaruh Berfikir
Berpikir berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Hal ini dapat dilihat dari hasil percobaan dimana ketika berpikir tekanan darah orang coba meningkat dari 110 80 mmHg menjadi 110/90 mmHg. Peningkatan kerja otak membutuhkan nutrisi dan O2 yang banyak sehingga darah akan dipompa lebih banyak ke otak. Sehingga kardiak output akan ditingkatkan yang selanjutnya akan meningkatkan aliran balik vena dan meningkatkan tahanan perifer yang kemudian menyebabkan tekanan darah meningkat. Selain itu letak otak berada diatas jantung sehingga dibutuhkan tekanan yang lebih kuat untuk mendorong darah ke otak.
5. Percobaan Valsava (Valsava’s Maneuver)
Dalam percobaan ini seharusnya tekanan darah orang coba akan menurun tetapi karena kesalahan perhitungan atau ketidakakuratan alat menyebabkan penyimopangan hasil. Seseorang melakukan ekspirasi kuat dengan glottis tertutup dimana tekanan intratorakal sehingga aliran balik vena menurun yang mengakibatkan curah jantung menurun dan selanjutnya menyebebkan penurunan tekanan darah.
6. Percobaan Muller
Dalam percobaan ini seharusnya tekanan darah orang coba akan menurun tetapi karena kesalahan perhitungan atau ketidakakuratan alat menyebabkan penyimopangan hasil. Seseorang melakukan inspirasi kuat dengan glottis tertutup maka CO2 banyak keluar. Sehingga menurunkan volume darah yang akan mengangkut Oksigen dan menurunkan curah jantung sehingga tekanan darah akan menurun.
Selain itu, hal yang dapat kita kaji dalam percobaan ini adalah penyakit Arterioskelerosis atau pengerasan arteri. Istilah Arterioskelerosis atau pengerasan arteri sebetulnya meliputi setiap keadaan pembuluh arteri yang mengakibatkan penebalan atau pengerasan dindingnya. Arterioskelerosis merupakan penyakit yang melibatkan aorta ,cabang-cabangnya yang besar dan arteri yang berukuran sedang seperti arteri yang menyuplai darah ke bagian-bagian ekstermitas ,otak, jantungdan organ dalam utama. Arterioskelerosis tidak menyerang arteriol dan juga tidak melibatkan sirkulasi vena. Penyakit ini multifokal dan lesi unit,atau ateorema, terdiri dari massa bahan lemak dengan jaringan ikat fibrosa. Sering disertai endapan skunder garam kalsium dan poduk-produk darah.
Tekanan darah merupakan faktor penting bagi, insiden dan beratnya arteriosklerosis. Pada umumnya penderita hipertensi akan megalami arteriosklerosis lebih awal dan lebih berat dan beratnya penyakit berhubungan dengan tekanan darah, walaupun dalam batas normal. Arteriosklerosis tidak terlihat pada arteria pulmonalis kecuali jika tekanannya meningkat secara abnormal, kedaan ini dinamakan hipertensi pulmonal. Faktor risiko lain dalam perkembangan arteriosklerosis adalah merokok. Merokok merupakan faktor lingkungan utama yang menyebabkan arteriosklerosis menjadi semakin buruk.












BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1. Cara-cara pengukuran tekanan darah arteri adalah dengan cara palpasi, auskultasi dan osilasi.
2. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah secra fisiologis adalah karena istirahat, perubahan sikap, kerja otot dan pengaruh berfikir, inspirasi dan ekspirasi yang kuat.
3. Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara diantaranya yaitu jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, dan bertambahnya cairan dalam sirkulasi.

B. SARAN
Diharapkan adanya penambahan alat-alat praktikum dan untuk asisten sudah sangat bagus sekali hanay diharapkan lebih profesionalismenya saja.













BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1. Ganong W.F. 2003. Review of Medical Physiology. Lange Medical Books, McGraw-Hill
2. Sherwood lauralee. 2001. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta
3. Guyton A.C. 2002. Fisiology Manusia dan Mekanisme Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
4. Ganong W. F. 2001. Fisiologi Manusia (Review of Medical Physiologi). Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta
5. http://about.com
6. http://google.com


















KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Tiada kata yang seindah puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat berupa kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktikum Fisiologi ini dengan baik dan tepat pada waktunya

Terima kasih tak lupa penulis haturkan kepada semua asisten pembimbing yang telah memberikan pengarahan serta teman-teman yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini sehingga dapat terselesaikan.

Tak ada gading yang tak retak, begitu pula manusia tak ada yang sempurna. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Makassar, 04 Januari 2010


Penulis







DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
MIKROSIRKULASI
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Percobaan Atau Praktikum 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2
BAB III METODOLOGI 11
A. Alat Dan Bahan 11
B. Cara Kerja 11
BAB IV HASIL DAN PERCOBAAN 12
A. Hasil Percobaan 12
B. Pembahasan 12
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 14
BAB VI DAFTAR PUSTAKA 15

REFLEKS-REFLEKS FISIOLOGI
BAB I PENDAHULUAN 16
A. Latar Belakang 16
B. Tujuan Percobaan Atau Praktikum 16
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 17
BAB III METODOLOGI 24
A. Alat Dan Bahan 24
B. Cara Kerja 24
BAB IV HASIL DAN PERCOBAAN 26
A. Hasil Percobaan 26
B. Pembahasan 27
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 30
BAB VI DAFTAR PUSTAKA 31
TEKANAN DARAH ARTERI
BAB I PENDAHULUAN 32
A. Latar Belakang 32
B. Tujuan Percobaan Atau Praktikum 32
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 33
BAB III METODOLOGI 40
A. Alat Dan Bahan 40
B. Cara Kerja 40
BAB IV HASIL DAN PERCOBAAN 44
A. Hasil Percobaan 44
B. Pembahasan 46
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 50
BAB VI DAFTAR PUSTAKA 51

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar